Kepala terasa begitu sakit hingga saya merasa berat untuk mengangkatnya. Bukan karena ada masalah dari luar yang menimpa. Tapi masalah tersebut justru ku ciptakan sendiri dalam sebuah bingkai ketidakjelasan. Masalah yang sebenarnya bisa dibiling ringan. Namun kata kawanku justru saya sendirilah yang membuatnya semakin berat.
Masalah yang tidak jelas asal usulnya, ibarat contoh hanya berasal dari kegelisahan kecil yang kupendam. Secara tak sengaja masalah tersebut kupupuk sehingga membesar. Lebih besar dari apa yang saya duga dan membuatku ingin bilang, "aku menyerah" jangan kau timpa lagi, cukup rasa sakit ini membuatku semakin panjang menarik napas.
Mencoba kukeluhkan pada orang disekitarku, harap ada sedikit yang hilang. Ku coba dan bukan hanya sekali tapi berulang kali. Anehnya rasa sakit tersebut memang ada, bukan karena tidak ada obat atau tidak tersembuhkan. Tapi........
Memang secara tak sadar rasa sakit tersebut kuciptakan dalam ruang-ruang yang ada diotakku. Awalnya hanyalah butiran debu yang melintas di depan wajahku, sebenarnya tidak menempel tapi kupaksakan seolah menempel. Kuperas otakku bahwa debu tersebut telah mengotoriku dan aku harus sebisa mungkin membersihkannya.
Selesai kubersihkan satu masalah timbul lagi masalah yang tidak jelas pangkal ujungnya, tahu-tahu ada. Saya harus percaya bahwa mungkin setiap orang perlu mitos. Satu pertanyaan yang telah terjawab secara ilmiah malah dimentahkan dengan sesuatu yang kurang ilmiah.
Yah, mungkin dan semoga masalahku tidak ada nyata tapi justru itu yang dapat membunuhku. Bukanlah sesuatu yang telah terjadi, hanya suatu ketakutan yang sebenarnya tidaklah ada dan tidak pantas dicemaskan. Kalaupun ada toh semua orang juga punya masalah. Orang lain punya masalah yang jauh lebih berat, sangat dimungkinkan.
Mungkin inilah kristalisasi dari apa yang kupelajari selama hidup dan bisa kunamakan racun kehidupan. Apa yang terjadi mempengaruhi apa yang kita pikirkan dan nampak dalam sikap. Sikap yang kacau, yang seharusnya tidak mengenai orang lain. Cukup saya yang tahu, tapi ego bodoh seperti itu ternyata masih belum bisa kumiliki.
Ada baiknya istrirahat dan menutup semua panca indra. Biarkan semua terjadi tanpa suatu ketakutan kita akan tertinggal atau terlewat. Saya adalah saya dan kamu adalah kamu, jadi saya bukanlah kamu, selesai.
Mudah memang kalau itu disajikan dalam kata-kata. Mencoba kembali setelah secara sadar mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia. Memasuki sebuah ruang yang ada hanya saya dan saya.
Semoga saya tidak terlena dalam sebuah konsep dan menjadikan diri ini lupa. Bahwa dunia terus berjalan dan yang jelas tidak akan berakhir begitu saja. Tak boleh melewatkan waktu dan habis untuk memikirkan sesuatu yang tidak jelas.
Yang terjadi biarlah terjadi setidaknya masalah dapat mendewasakan kita. Memperkenalkan sesuatu pada yang nyata bukan hanya dalam akal pikiran semata.
Jumat, 09 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kalau Kamu Percaya Bahwa Hidup Adalah Simbol-Simbol Lihatlah.................