Selasa, 02 Februari 2010

Gelisah Tiada Henti

Beberapa waktu terakhir ini saya memiliki kebiasaan baru, bukan berkegiatan atau beraktivitas. Tapi satu kebiasaan yang membuatku semakin harus berfikir jalan mana yang harus saya pilih.
Haruskan saya bertahan dengan apa yang ada sambil terus berjalan untuk masuk kedalamnya. Semakin jauh saya masuki jalan itu semakin terjal medan yang kulihat. Nampak sebuah kekecewaan manakala kita hanya dijadikan budak, sama sekali tak punya kuasa atas diri sendiri.
Benar juga bila dikatakan dengan tetap bertahan kita akan ditempa, akan diuji mengenai apa yang kita yakani. Berjuang layaknya pahlawan kesiangan sampai pernah kukatakan kenapa kita harus bersifat sosialis sedang mereka bersikap kapitalis.
Menjadi ego yang dipaksakan bila kita hanya berjuang untuk orang lain bukan untuk diri kita ataupun keluarga kita. Saya dan keluarga butuh penghidupan yang layak, yang lebih dari cukup manakala terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Adakah yang akan memperjuangkan nasib saya dan mungkin kita kalau kamu bersedia masuk didalamnya. Menjadi orang yang menjaga idealisme dan melacurkan diri untuk keberpihakan publik.
Padahal disekitarku kutemukan kontradiktif bahwa mereka yang harusnya bekerja untuk pengabdian tapi apa nyatanya mereka tak ubahnya dengan para preman menjadi penindas dan sok kuasa. Mereka memiliki kapasitas yang jauh lebih baik daripada saya. Dalam segala hal mereka unggul dan mereka banyak dicari agar mau melacurkan diri untuk kepentingan yang berduit.
Segala sesuatunya kini telah berubah, beda manakala ketika saya dan mungkin kamu saat masih berada dikampus. Semua yang ada ditujukan untuk pengabdian walaupun ada juga yang oprtunis tapi saya yakin itu hanya dua dari sepuluh. Tapi kini hampir semua menjadi orang yang bisa memanfaatkan kesempatan dan kewenangan untuk dirinya sendiri.
Sedang saya, sampai kini masih kebingungan menentukan arah. Akankan kulawan dengan resiko akan menjadi pecundang atau akan sama seperti mereka yang suka menjilat. Menggadaikan harga diri hanya untuk yang sesaat.
Masih belum kutemukan satu tempat yang dapat membuatku optimal sebagai manusia yang menikmati hidup. Bukan hanya berperan karena mampu tapi lebih pada kesenangan yang ada didalamnya bahwa kita bisa menjadi manusia yang humanis tanpa meninggalkan sisi-sisi kegilaan.

Jumat, 20 November 2009

Kamu Pilih Hening atau......

Seperti biasa saya berkumpul tiap malam bersama kawanku. Penuh canda tawa diselingi umpatan tapi keriuhan mereka seolah tak mengusikku. Saya lebih memilih asyik dengan pikiranku sendiri. Semua tak jelas di saat saya harusnya menemukan arti hidup.

Semuanya tak bisa seperti dulu yang asal berjalan dan selesai. Hal tersebut sudah tak berlaku bagiku. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan kenapa saya memilih jalan terjal ini. Jalan dimana saya harus pergi ribuan kilometer untuk nantinya saya akan kembali ke titik nol dimana saya memulai perjalanan.

Ada suka duka dan kesenangan dalam tiap perjalanan hidup. Semua menjadi bermakna bila kita bisa mencerna bahwa apa yang dilakukan tidak berlalu sia-sia. Rugi usia, rugi waktu dan yang jelas rugi saat-saat dimana saya seharusnya bisa berkumpul dengan keluarga dan kawan-kawan untuk menikmati semua kegilaan.

Kegilaan yang mungkin dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja tapi tidak bagiku. Kegilaan saya anggap sebagai cerminan diri akan sesuatu hal yang dilaksanakan dengan segala totalitas. Tak ada alasan melakukan sesuatu setengah hati.

Teringat cerita dari kawan saat dalam perjalanan pulang dari kantor. Kawan saya ini cerita kalau dirinya mendapati jodohnya dengan cara yang unik. Diantara hangar binger teknologi yang diwakili facebook dan SMS.

Ia bertemu dengan pukaan hti setelah cukup lama menjalin hubungan jarak jauh. Bukan karena saling mengenal dan memuji. Ia justru hanya memperkenalkan hal-hal negative kepada si calon. Alasannya simple, kalau sesuatu yang baik dan positip tak perlu diperkenalkan. Hal tersebut secara naluri akan muncul disaat hubungan baik-baik saja. Lain halnya bila sedang berkonflik, yang ada hanya hal-hal yang negative.

Maka dengan penuh kesadaran untuk kehilangan ia ungkapkan sesuatu yang buruk yang ada pada dirinya tanpa sedikitpun ada usaha untuk menutupi atau memperhalus.

Beruntung ia mendapat seseorang yang secara sengaja memang mencari orang yang menjalni hubungan yang serius. Dengan segala keterbatasan akhirnya toh masih bisa berjalan. Ia jarang memandang sesuatu yang ada diatasnya tapi ia selalu memilih dan melalukan melihat sesuatu yang ada dibawahnya.

Alhasil kini mereka hidup bahagia dengan segala kesadaran dan apa yang telah ada tanpa mimpi yang mulul-muluk.

Minggu, 11 Oktober 2009

Pria Yang Memperempuankan Diri

Sebuah realita kalau apa yang kita lakukan mendapat penilaian orang lain. Perbuatan baik buruk, melibatkan atau tidak melibatkan orang lain pasti akan dikomentari. Menjadi kebutuhan untuk meng"ada" diantara hiruk pikuk orang lain mungkin dapat dikatakan suatu yang sifatnya wajib.
Sama halnya bila ada yang berpendapat bahwa kita mahluk sosial. Mahluk yang harus ada diantara kerumunan. Bukan hanya untuk saling membantu bila ada kebutuhan. Tapi juga memenuhi kebutuhan emosional semacam membicarakan orang lain, entah baik atau buruk.
Menjadi tolak ukur dan bahan pembicaraan yang menyenangkan, dulu katanya kaum hawalah yang memiliki hak atas gosip. Sekarang lihatlah disekitar kita, bukan hanya aku dan kamu yang suka bergosip ria tapi semua dari golongan usia.
Tak ada yang salah dengan gosip. Setidaknya dengan bergosip kita akan tahu kebaikan dan keburukan kita. Tidak hanya mau menilai orang lain, toh kita juga pantas menggosipi diri sendiri.
Tak perlu banyak berpikir dan memaksa perasaan, cukup dengan kesediaan jujur bahwa semua orang rata-rata sama. Sangat sulit mencari orang yang lebih, dalam arti jauh lebih baik atau lebih buruk, kalau ada perbedaan hanyalah sedikit itupun karena sudut pandang yang seringkali salah pilih.
Menilai diri sendiri dengan hal-hal yang menyenangkan dan menilai orang lain dengan sesuatu yang kurang mengenakan adalah sebuah kewajaran. Membuat standar yang seringkali tidak berimbang sekadar menutupi dan menyenangkan diri sendiri.
Pernah juga pada kondisi kita hanya membicarakan orang lain. Waktu berlalu begitu cepat tak terasa sudah dalam hitungan jam. Namun kalau sedang apes menjadi orang yang terekspolitasi, terdzolimi dan teraniaya waktu yang berjalan masih dalam hitungan menit rasanya sudah dipanggang berjam-jam.
Menyenangkan juga dalam kondisi jadi penonton, cukup tersenyum kalau ada yang tersentil dan tertawa bila yang lain ikut tertawa. Seolah itu naluri yang tidak perlu dipelajari semua terjadi secara tiba-tiba atau lebih tepatnya reflek.

Jumat, 09 Oktober 2009

Tak Sadar Rasa Sakit Itu Kutanam dalam Otakku

Kepala terasa begitu sakit hingga saya merasa berat untuk mengangkatnya. Bukan karena ada masalah dari luar yang menimpa. Tapi masalah tersebut justru ku ciptakan sendiri dalam sebuah bingkai ketidakjelasan. Masalah yang sebenarnya bisa dibiling ringan. Namun kata kawanku justru saya sendirilah yang membuatnya semakin berat.
Masalah yang tidak jelas asal usulnya, ibarat contoh hanya berasal dari kegelisahan kecil yang kupendam. Secara tak sengaja masalah tersebut kupupuk sehingga membesar. Lebih besar dari apa yang saya duga dan membuatku ingin bilang, "aku menyerah" jangan kau timpa lagi, cukup rasa sakit ini membuatku semakin panjang menarik napas.
Mencoba kukeluhkan pada orang disekitarku, harap ada sedikit yang hilang. Ku coba dan bukan hanya sekali tapi berulang kali. Anehnya rasa sakit tersebut memang ada, bukan karena tidak ada obat atau tidak tersembuhkan. Tapi........
Memang secara tak sadar rasa sakit tersebut kuciptakan dalam ruang-ruang yang ada diotakku. Awalnya hanyalah butiran debu yang melintas di depan wajahku, sebenarnya tidak menempel tapi kupaksakan seolah menempel. Kuperas otakku bahwa debu tersebut telah mengotoriku dan aku harus sebisa mungkin membersihkannya.
Selesai kubersihkan satu masalah timbul lagi masalah yang tidak jelas pangkal ujungnya, tahu-tahu ada. Saya harus percaya bahwa mungkin setiap orang perlu mitos. Satu pertanyaan yang telah terjawab secara ilmiah malah dimentahkan dengan sesuatu yang kurang ilmiah.
Yah, mungkin dan semoga masalahku tidak ada nyata tapi justru itu yang dapat membunuhku. Bukanlah sesuatu yang telah terjadi, hanya suatu ketakutan yang sebenarnya tidaklah ada dan tidak pantas dicemaskan. Kalaupun ada toh semua orang juga punya masalah. Orang lain punya masalah yang jauh lebih berat, sangat dimungkinkan.
Mungkin inilah kristalisasi dari apa yang kupelajari selama hidup dan bisa kunamakan racun kehidupan. Apa yang terjadi mempengaruhi apa yang kita pikirkan dan nampak dalam sikap. Sikap yang kacau, yang seharusnya tidak mengenai orang lain. Cukup saya yang tahu, tapi ego bodoh seperti itu ternyata masih belum bisa kumiliki.
Ada baiknya istrirahat dan menutup semua panca indra. Biarkan semua terjadi tanpa suatu ketakutan kita akan tertinggal atau terlewat. Saya adalah saya dan kamu adalah kamu, jadi saya bukanlah kamu, selesai.
Mudah memang kalau itu disajikan dalam kata-kata. Mencoba kembali setelah secara sadar mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia. Memasuki sebuah ruang yang ada hanya saya dan saya.
Semoga saya tidak terlena dalam sebuah konsep dan menjadikan diri ini lupa. Bahwa dunia terus berjalan dan yang jelas tidak akan berakhir begitu saja. Tak boleh melewatkan waktu dan habis untuk memikirkan sesuatu yang tidak jelas.
Yang terjadi biarlah terjadi setidaknya masalah dapat mendewasakan kita. Memperkenalkan sesuatu pada yang nyata bukan hanya dalam akal pikiran semata.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Karenamu Yang Luar Biasa, Saya Juga Pengen Sedikit Luar Biasa

Kekagumanku terhadapmu dari dulu sampai sekarang tak berubah. Meski waktu telah berjalan lebih dari 14 tahun. Kamu tetap sosok perempuan yang luar biasa. Penuh vitalitas, kerja keras, dan cerdas. Sosok kesempurnaan ada pada dirimu.
Saya masih ingat ketika dulu kamu berlari, penuh dengan kilatan keringat dan membuat raut wajahmu memerah. Saya juga ingat ketika kamu berselisih pendapat, kamu selalu bisa memberikan alasan bahwa apa yang kamu pilih benar. Terlebih kerja kerasmu dalam belajar, tak cukup hanya di sekolah atau dirumah. kamu selalu mengasah dan mengolah otakmu untuk dapat lebih baik.
Wajar bila saya dari dulu selalu mengagumimu. Kadang membuatku malu bila harus bertemu denganmu. Saya hanyalah setitik pemuja diantara pecintamu. Maklum juga bila saya tak pernah terlihat dan ada di depanmu. Setidaknya rasa bersyukur masih ada, Tuhan masih memberi kesempatan bagiku untuk berjuang. Mungkin tak adil bila semua usahaku itu kulakukan hanya untuk kamu, agar tak malu bila suatu saat mungkin kita akan bertemu.
Tak ada paksa yang membuat saya ingin bertemu denganmu, cukup mendengar kabar baik menyertaimu itu sudah cukup. Munafik bila setelah waktu berjalan kekagumanku berkurang tapi jujur sekian lama saya mencoba menghilangkan rasa sungkanku, ketakutanku bila kelak bertemu denganmu terasa sulit.
Saya pasti akan tetap menundukan kepala, kamu terasa jauh dilangit dan begitu sulit diraih. Sosok yang relijius, beda dengan diriku yang jauh dari nilai-nilai agama. itu yang pasti alasan dasar ada perbedaan yang begitu jauh. Kalau berani lebih jujur kecerdasanmu jauh, mungkin seratus atau seribu kali lipat dari apa yang terpendam di otakku.
Semakin saya belajar untuk setidaknya bisa berbicara setara, mengimbangi kecerdasanmu semakin menunjukan kekerdilan otakku. Apa yang kulakukan tak akan merubahnya. Kamu tetap jauh dan saya hanya bisa menatap dan tersenyum. Karenamu yang luar biasa saya juga pengen sedikit luar biasa.

Selasa, 18 Agustus 2009

Enggan Prakmatis

Lama tak kusentuh halaman blog yang dari dulu saya coba miliki. Memiliki satu tempat untuk sekadar menuangkan ganjalan hati atau unek-unek yang tiba-tiba terlintas dikepalaku. Tak ada yang istimewa memang, apa yang saya tulis hanyalah kegelisahan atas apa yang saya lihat disekitar.
Meski menyakitkan, dan enggan menulis tapi saya tetap mencoba, memaksakan jari ini terus bergerak. Tak usah berpikir, apa yang telah ada keluarkan, tak perlu memcari dan berangan apa yang harus diutarakan, cukup muntahkan. Semua ada tinggal berani tidak saya menghadapi kenyataan bahwa saya seperti itu terlepas dari pandangan orang bahwa saya termasuk digolongan yang baik atau buruk.
Pernah saya merasakan disuatu masa yang sangat menyakitkan, bukan kehilangan sesuatu atau ditinggalkan orang lain. Namun, ketika kawan terbaik saya berkata bahwa apa yang saya yakini selama ini salah semua. Semua yang saya ajukan tidak bisa direalisasikan, semua itu hanya ada dalam teori saja dan berlaku didalam kelas.
Teori yang tidak bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan tidak memberi perubahan. Padahal itu semua adalah teori atau lebih tepatnya wacana yang saya pahami dan menjadi keyakinanku.
Berawal dari rasa penasaran dan kucoba memcari jawab dengan segala macam dan akhirnya aku bersepakat dan bersekutu dengan hati dan pikiranku bahwa itulah (wacana) kucari.
Selama ini apa yang saya lakukan dan pelajari pelan-pelan saya arahkan pada keyakinan tersebut. Dalam bahasa ekstrim menjadi ideologi eksklusif bahwa yang lain pasti tidak memilikinya. Saya ingin menjadi orang yang berbeda dengan segala kekhasan dan keunikan yang sata miliki.
Sesuatu yang saya agung-agungkan bahwa tak ada orang lain yang memiliki sama persis dengan ideologi saya. Satu wacana yang mengarahkan pada satu titik tertinggi, "itulah yang kucari dalam hidup." Meski karenanya saya akan kehilangan banyak hal tapi setidaknya masih ada yang tersisa, tak lain adalah keyakinan.
Keyakinan yang menurut kawanku sama sekali tidak berarti, keyakinan yang tidak bisa membuat kita berkembang dan maju untuk menjadi manusia yang lebih baik. Kata kawanku itu hanya akan membatasi apa yang seharusnya saya lakukan dan raih. Terlalu mengkotak-kotakan atau mungkin malah mengucilkan diri sendiri dalam ruang hitam dan gelap.
Dunia yang sebenarnya teramat luas untuk dijelajahi dan dipelajari mengkerdil, menjadi kecil karena pola pikirku yang salah. Dunia yang tak akan habis memberi pemahaman dan kekaguman bahwa setiap kita belajar dan tahu akan membuat kita akan lebih tahu.
Menjadi candu yang mengharuskan kita akan rakus ilmu pengetahuan, membuat lupa akan usia kita yang sebenarnya dan segala sesuatu ada masanya. Ada tugas-tugas sosial dan pribadi yang harus kita lalui sesuai dengan usia. Jangan sampai terlena dengan segala kenyaman karena itu akan menjebak dan menipu kita. Kesadaran yang kita rasakan bila semua telah berakhir akan membuat kita tidak memaknaai bahwa apa yang telah kita lakukan selama ini........ Sia-sia.
Mungkin temanku ini satu tipe yang prakmatis, tak sulit mencari orang seperti itu. Tinggal kita mengarahkan kaki unntuk mendatangi tempat-tempat hedonis, yang membuat lupa akan suatu perjuangan dan kerja keras. Maklum ia tak pernah mengalami kesulitan yang sesungguhnya dalam hidupnya. Ia bisa menyelesaikan masalah tanpa harus susah-susah belajar. "Masalah hari ini selesaikan hari ini dan masalah besok selesaikan besok," ujarnya.
Sikap pragmatis yang mungkin dimiliki semua orang khususnya bagi mereka yang hidup didaerah perkotaan dan serba keturutan. Berbeda mungkin bagi orang yang terkucil dalam suatu wilayah terbatas. Didalamnya terdapat suatu ajaran yang mengharuskan menjawab pertanyaan kenapa itu terjadi dan seberapa banyak alternatif jawaban yang bisa diberikan. Bukan hanya menyelesaikan masalah tapi juga memberikan pemahaman untuk menghadapi dan membekali diri dalam penyelesaian masalah yang lebih besar dan kelak pasti terjadi.

Sabtu, 01 Agustus 2009

Tak Perlu Malu

Awal bulan Agustus 2009, iseng-iseng saya tulis nama beberapa kawan yang dulu pernah familiar dan ingat betul ejaannya. Salah satunya ada nama perempuan yang pernah dan sampai sekarang begitu sulit di lupakan ejaanya. Dengan pasti kutulis namanya meski ragu akankan dia masuk dalam jejaringan sosial.
Sedikit cemas ku tunggu dan “aha” nama dia muncul dan hanya satu plus fotonya. Meski lama tak jumpa saya yakin bahwa ia adalah orang yang ku maksud. Satu jam setelah ku add ku cek lagi dan alhamdulilah dia add balik.
Bukannya apa? Mungkin dialah perempuan yang kukenal baik tak lebih dari empat bulan tapi begitu berkesan. Kenapa, ya karena dia saya mengenal perjuangan, karena dia saya punya alasan untuk selalu mencoba hal baru dan terus lebih baik. Memanfaatkan apa yang ada menjadi sesuatu yang berkesan minimal buat diri sendiri kalau hal tersebut tidak bisa diberikan pada orang lain.
Sebuah alasan kenapa saya masih ada. Mungkin dianggap konyol, perkenalan tak lebih dari empat bulan memberi pemaknaan sepanjang usia. Kekagumanku pada kecerdasan dan kemampuannya untuk terus belajar dan belajar.
Memang saya jauh dibawahnya dalam hal kemampuan tapi dalam hal optimalisasi saya rasa semua berjalan lebih dari seharusnya. “Menembus batas” itu kata beberapa kawan untuk apa yang telah coba ku raih.
Tak terasa lebih dari delapan tahun ikut berpartisipasi mengeruk dunia. Berbagai tempat pernah kucoba dari industri otomotif, dunia pendidikan + laboratorium, dan kini dunia jurnalistik. Dunia yang sebenarnya tidak baru juga, dunia baru yang sangat menyenangkan, mempertemukan dengan banyak orang dari berbagai kalangan dari pejabat sampai penjahat.
Semua karena kamu, perempuan yang mengajarkanku bahwa aku akan tetap bersemangat. Berharap pada satu hal bahwa kelak bila bertemu denganmu aku tak perlu malu dan menundukan kepala.